Yogyakarta, NU Online
pcinu
 
“Sering-sering diadakan mawon (saja), Bu. Terima kasih atas ilmunya,” kata salah seorang peserta Workshop Ayo Menulis, Ayo Sekolah di Belanda yang diadakan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Cabang Istimewa Nadhatul Ulama (PCINU) Belanda dan Komunitas Matapena. 
 
Pernyataan ini juga diamini oleh para peserta yang lain, yaitu para santri PP Al-Munawwir Komplek Q Krapyak Yogyakarta. Selama dua hari, Sabtu dan Ahad (13-14/1) para peserta yang berjumlah 30 santri belajar menulis artikel dan cerpen serta mendapatkan motivasi untuk sekolah ke Belanda.
 
Pada hari pertama, pelatihan kepenulisan dipandu oleh Nor Ismah, Ketua LTN PCINU Belanda. Peserta yang dibagi ke dalam tiga kelompok diajak untuk membaca dan memberikan komentar atas karya teman-teman mereka. Sebelumnya para peserta sudah membuat tulisan dalam bentuk artikel dan cerpen dengan tema Budaya di Pesantren. Karya para peserta ini rencananya akan dibukukan oleh pihak pesantren.
 
“Artikel ini memiliki ide bagus, tapi argumennya kurang kuat. Mungkin bisa ditambah beberapa data dari literatur,” saran Ismah ketika membedah artikel berjudul Benarkah Pesantren Tidak Mengajarkan Kesetaraan? Bedah karya ini dilakukan saat sesi review tulisan pada hari kedua. Ia juga menegaskan bahwa penulis cerpen sebaiknya hanya menyajikan scene-scene yang bisa menggambarkan ide cerita, bukannya memuat semua kronologi cerita sehingga bertele-tele dan membosankan. 
 
Usai sesi penulisan, Ikrom Musthofa memandu sesi motivasi belajar ke Belanda. Mahasiswa program Master in Environmental and Disaster Studies di Wageningen University ini memulai sesi dengan memutar vlog tentang suka duka menempuh studi di Belanda. Selanjutnya penerima beasiswa LPDP ini menjelaskan tentang sistem belajar, mata kuliah, dan beberapa beasiswa yang bisa didapatkan oleh para santri untuk sekolah di Belanda.
 
“Mengapa kita sebagai santri harus berani?” tanya Arum pada sesi tanya jawab. Mendapat pertanyaan tersebut, Ikrom menjawab bahwa santri memiliki ikatan yang kuat dengan sejarah dan tradisi Islam di Indonesia.
 
“Siapa lagi yang akan memberikan kesejukan pada Islam kalau bukan santri?“ ujar penulis buku Sajak-Sajak Bianglala itu.
 
Ismah sependapat dengan apa yang diutarakan oleh Ikrom. Menurutnya, keterlibatan santri sangat dibutuhkan tidak hanya di bidang agama, tetapi juga bidang yang lain, misalnya teknologi dan media. 
 
Badi’atus Sholihah terlihat antusias mengikuti kegiatan ini.
 
“Saya senang kegiatan ini, apalagi sekarang liburan, jadi ada kegiatan untuk mengisinya,” ujar santri yang nyambi kuliah di jurusan Sastra Arab, Universitas Gajah Mada ini.
 
Sementara bagi Elyu, santri peserta yang lain, pelatihan ini membuka wawasan, kata hati, dan cita-citanya yang sempat padam.
 
“Bahwa santri, NU dan Islam itu memiliki amanah besar untuk masa depan negeri ini,” tandasnya penuh keyakinan. (Hafidhoh Ma’rufah/Kendi Setiawan)
 
Terbit pertama kali di NU Online

Gagasan lainnya

Perintah Ilahi: Jangan Memaki Sesembahan Mereka!

26-01-2017

Mari kita bahas Tafsir surat al-An’am ayat 107-108: “Dan kalau Allah menghendaki, niscay...

Santri Al-Munawwir Krapyak Pelajari Tips Studi di Belanda

16-01-2018

Yogyakarta, NU Online   “Sering-sering diadakan mawon (saja), Bu. Terima k...

NAHDLATUL ULAMA DAN PERANNYA DI BELANDA: Sebuah Tinjauan Etn...

01-02-2017

Prolog: Sejarah berdirinya Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di Belanda Keberadaan ja...

Mewujudkan (Kembali) Islam Nusantara sebagai Identitas Terbu...

26-01-2017

Najib Burhani di KORAN SINDO, 19 Januari 2017 mengonstruksikan apa yang dia sebut sebagai ”genealog...

Etos Salafi

26-01-2017

Konon, ilmu tidak dapat merubah watak, alih-alih justru memperkuat ekspresinya. Sebuah hikayat mence...

PCINU Belanda Berbagi Tips Menulis dan Beasiswa dengan Santr...

14-01-2018

Yogyakarta, NU Online    Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Cabang Istimewa Nahdh...

Tragedi Charlie Hebdo, Ini 3 Pernyataan Sikap PCINU Belanda

11-01-2015

Terkait tragedi penyerangan di kantor majalah satir Charlie Hebdo di Paris, Perancis, Rabu (7/1) lal...

PERINGATI HARLAH NU KE-91, PCINU BELANDA RANCANG ISLAM NUSAN...

01-02-2017

Belakangan ini ideologi populisme berbasis sentimen primordial kian menguat di berbagai penjuru duni...

Kiai Soleh Darat Semarang: Sang Ghazzālī Jawa

09-12-2017

Martin van Bruinessen menyebutkan bahwa di kalangan para kiai muda sezamannya, Kiai Soleh Darat Sema...

Pengumumam Para Pendaftar Yang Terpilih

04-01-2018

  "Ayo Menulis, Ayo Sekolah di Belanda" adalah salah satu program LTN PCI NU Belanda bekerja sa...